- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
MAKALAH
PORTOFOLIO DAN TES TULIS
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sistem
Evaluasi PAI kelas A9
Dosen Pengampu: H. Nur Khoiri, M. Ag.
Disusun oleh:
Hasan Habiburrahman
141310003101
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NAHDLATUL ULAMA JEPARA
2017
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmaanirrohim..
Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta yang telah
memberikan kepada kita berbagai nikmat yang tidak terkira dan terhitung oleh
kita.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, serta para
pengikut setianya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya hingga hari
kiamat.
Merupakan suatu kenikmatan yang besar, dan berkat taufiq dari
Allah, kami mampu menyelesaikan makalah “Portofolio dan tes Tulis” yang
disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sistem Evaluasi PAI kelas A9 ini diharapkan bisa menambah pengetahuan kita dan bermanfaat bagi
kita semua.
Baarokallohu
fiikum. . Semoga bermanfaat !
Jepara, 21 Mei
2017
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Model penilaian
yang selama ini dikembangkan di sekolah-sekolah pada umumnya adalah model tes
tertulis (paper and pencil test) atau tes standar yang hanya mengukur
tingkat kemampuan kognitif siswa saja. Padahal penilaian yang sebenarnya tidak
hanya mengukur aspek kognitif belajar siswa, tapi juga mengukur aspek
psikomotor dan afektifnya juga.
Guru yang
kreatif mampu melakukan penilaian terhadap ketiga aspek tersebut dengan
berbagai cara, meskipun membutuhkan waktu lama dan tidak mungkin dapat
dilakukan sendirian melainkan membutuhkan bantuan dari guru pendamping. Berbeda
dengan guru yang kurang kreatif, tentu saja guru tersebut akan
kebingungan bagaimana cara melakukan penilaian terhadap ketiga aspek pada
siswa-siswinya agar tidak hanya menyudutkan aspek kognitif saja.
Penilaian
terhadap siswa tidak hanya cukup dengan tes tertulis saja. Meskipun keberadaan
tes tertulis juga sangat membantu guru untuk mengetahui sejauh mana kemampuan
belajar siswa, namun guru juga diharapkan mampu melakukan penilaian melalui
portofolio karena dengan demikian tingkat perkembangan siswa lebih dapat diukur
dan dipahami.
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Apa
hakikat penilaian portofolio?
2.
Apa
sajakah tujuan dan fungsi penilaian portofolio?
3.
Bagaimana
prinsip-prinsip penilaian portofolio?
4.
Apa
sajakah kelebihan dan kekurangan penilaian portofolio?
5.
Apa
bentuk-bentuk tes tulis?
6.
Bagaimanakah
teknik pelaksanaan tes tulis?
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Untuk
mengetahui hakikat penilaian portofolio.
2.
Untuk
mengetahui tujuan dan fungsi penilaian portofolio.
3.
Untuk
mengetahui prinsip-prinsip penilaian portofolio.
4.
Untuk
mengetahui kelebihan dan kekurangan penilaian portofolio.
5.
Untuk
mengetahui bentuk-bentuk tes tulis.
6.
Untuk
mengetahui teknik pelaksanaan tes tulis
Dalam dunia
pendidikan, portofolio digunakan guru untuk melihat perkembangan peserta didik
dari waktu ke waktu berdasarkan kumpulan hasil karya sebagai bukti dari suatu
kegiatan pembelajaran. Portofolio juga dapat digunakan oleh peserta didik untuk
mengumpulkan semua dokumen dari ilmu pengetahuan yang telah dipelajari.
Di antara para
ahli, ada yang memandang portofolio sebagai benda atau alat, dan adapula yang
memandangnya sebagai metode, teknik, atau cara. Portofolio sebagai benda atau
kumpulan suatu hasil (bukti)dari suatu kegiatan, yakni kumpulan dokumentasi
atau hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan dalam suatu bundel. Misalnya,
bundelan hasil kerja peserta didik mulai dari tes awal, tugas-tugas,
catatan-catatan, dan lain-lain.
Salah satu
keunggulan penilaian portofolio adalah memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk lebih banyak terlibat, dan peserta didik sendiri dapat dengan mudah
mengontrol sejauh mana kemampuan yang telah diperolehnya.[1]
Segala sesuatu
yang terdapat dalam dunia pendidikan memiliki tujuan dan fungsi masing-masing,
begitu pula dengan penilaian portofolio.
a.
Tujuan
penilaian portofolio
1)
Menghargai
perkembangan peserta didik
2)
Mendokumentasikan
proses pembelajaran
3)
Meningkatkan
efektivitas proses pembelajaran
4)
Bertukar
informasi antara orang tua peserta didik dengan guru.
5)
Mempercepat
pertumbuhan konsep diri positif peserta didik
6)
Meningkatkan
kemampuan refleksi diri
7)
Membantu
peserta didik merumuskan tujuan
b.
Fungsi
penilaian portofolio
1)
Portofolio
sebagai sumber bagi guru dan orang tua untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan kemampuan pesertaa didik, tanggung jawab dalam belajar, perluasan
dimensi belajar, dan inovasi pembelajaran.
2)
Portofolio
sebagai alat pembelajaran merupakan komponen kurikulum, karena portofolio
mengharuskan peserta didik untuk mengoleksi dan menunjukkan hasil kerja mereka.
3)
Portofolio
sebagai alat penilaian autentik.
4)
Portofolio
sebagai sumber informasi bagi peserta didik untuk melakukan penilaian diri dari
waktu ke waktu.[2]
Direktorat PLP
Ditjen Dikdasmen Depdiknas (2003) mengemukakan pelaksanaan penilaian portofolio
hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip “mutual trust, confidentiality,
joint ownership, satisfaction, and relevance”
1)
Mutual
trust (saling
mempercayai), artinya jangan ada saling mencurigai antara guru dengan peserta
didik maupun antar peserta didik. Mereka harus saling percaya, saling
membutuhkan, saling membantu, saling terbuka, jujur, dan adil sehingga dapat
membangun suasana penilaian yang kondusif.
2)
Confidentiality (kerahasiaan bersama), artinya guru harus menjaga kerahasiaan
hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada, baik perseorangan maupun
kelompok, tidak boleh diberikan atau diperlihatkan kepada siapapun sebelum
diadakan pameran.
3)
Joint
ownership (milik
bersama), artinya semua hasil pekerjaan peserta didik dan dokumen yang ada
harus menjadi milik bersama antara guru dan peserta didik, karena itu harus
dijaga bersama, baik penyimpanannya maupun penempatannya.
4)
Satisfaction
(kepuasan), artinya semua dokumen
dalam rangka pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
harus dapat memuaskan semua pihak, baik guru, orang tua, maupun peserta didik.
5)
Relevance
(kesesuaian), artinya dokumen yang
ada harus sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
yang diharapkan.[3]
Setiap konsep
atau model penilaian tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Adapun kelebihan
model penilaian portofolio antara lain adalah:
a.
Dapat
melihat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu.
b.
Membantu
guru melakukan penilaian secara adil, objektif, transparan, dan dapat
dipertanggungjawabkan.
c.
Mengajak
peserta didik untuk belajar bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka
kerjakan.
d.
Meningkatkan
peran serta peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelajaran dan
penilaian.
e.
Memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan mereka.
f.
Memungkinkan
peserta didik melakukan penilaian diri dan mengembangkan kemampuannya.
g.
Dapat
digunakan untuk menilai kelas yang heterogen antara peserta didik yang pandai
dan kurang pandai.
h.
Memungkinkan
guru memberi hadiah terhadap setiap usaha belajar peserta didik.
i.
Memungkinkan
guru melakukan penilaian secara fleksibel, tetapi tetap mengacu kepada
kompetensi dasar dan indikator yang ditentukan.
Adapun kekurangan penilaian portofolio, antara lain adalah sebagai
berikut:
a.
Membutuhkan
waktu dan kerja ekstra.
b.
Dianggap
kurang reliabel dibandingkan dengan penilaian yang lain.
c.
Jika
guru melaksanakan proses pembelajaran yang bersifat thecher orienten,
kemungkinan besar inisiatif dan kreatifitas siswa akan terbelenggu sehingga
penilaian portofolio tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
d.
Penilaian
portofolio masih tergolong baru sehingga banyak guru, orang tua, dan peserta
didik yang belum mengetahui dan memahaminya.
e.
Tidak
tersedianya kriteria penilaian yang jelas.[4]
Tes tulis dapat
dibedakan menjadi dua bentuk tes, yaitu tes subjektif dan tes objektif.
a.
Tes
subjektif pada umumnya
berbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar
yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata.
Ciri-ciri pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti; uraikan, jelaskan,
mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. Jumlah soal terbatas
hanya sekitar 5-10 soal.
1)
Kelebihannya:
a)
Mudah
disiapkan dan disusun.
b)
Tidak
memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan.
c)
Mendorong
siswa untuk mengemukakan pendapat serta menyusun kalimat yang bagus.
d)
Memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasanya
sendiri.
e)
Dapat
diketahui sejauh mana siswa mendalami suatu masalah yang diteskan.
2)
Kekurangannya:
a)
Kurang
representatif dalam hal mewakili seluruh bahan pelajaran yang akan dites karena
soalnya hanya beberapa saja (terbatas).
b)
Cara
memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif.
c)
Pemeriksaannya
lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari
penilai.
d)
Waktu
untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.[5]
b.
Tes
objektif ada
bermacam-macam yang mana masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun
macam-macam tes objektif di antaranya:
1)
Tes
benar salah (true false)
Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement) benar dan
salah. Siswa bertugas untuk menandai statemen yang benar dengan huruf B dan
statement yang salah dengan huruf S.
·
Kelebihannya:
a)
Dapat
mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat, karena biasanya
pertanyaan-pertanyaannya singkat.
b)
Mudah
menyusunnya.
c)
Dapat
dilihat secara cepat dan objektif.
d)
Petunjuk
cara mengerjakannya mudah dimengerti.
·
Kekurangannya
a)
Sering
membingungkan.
b)
Mudah
ditebak atau diduga.
c)
Banyak
masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau
salah.
d)
Hanya
dapat mengungkap daya ingatan.[6]
2)
Tes
pilihan ganda (multiple choice tes)
Pada dasarnya soal bentuk pilihan ganda adalah soal bentuk benar-salah
juga, tetapi dalam bentuk jama’ karena option jawabannya terdiri dari tiga,
empat, atau bahkan lebih sesuai kebutuhan.
·
Kelebihannya:
a)
Lebih
fleksibel dan efektif dalam implementasi evaluasi.
b)
Jika
dikontruksi dengan intensif dapat mencakup hampir seluruh bahan pembelajaran
yang diajarkan oleh guru.
c)
Dapat
mengukur kemampuan intelektual siswa.
d)
Jawaban
siswa dapat dikoreksi dengan lebih mudah.
·
Kekurangannya:
a)
Penyusunan
soalnya lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.
b)
Kurang
dapat mengukur kecakapan siswa dalam memahami materi.
c)
Memberi
peluang pada siswa untuk menerka jawaban.[7]
3)
Menjodohkan
(matching test)
Matching test terdiri
atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan
mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas siswa adalah
menyesuaikan pertanyaan dengan jawaban yang sesuai dan tepat.
·
Kelebihannya:
a)
Relatif
mudah disusun.
b)
Penskorannya
mudah, objektif, dan cepat.
c)
Materi
test cukup luas.
·
Kekurangannya:
a)
Ada
kecenderungan untuk menekankan ingatan saja.
b)
Kurang
baik untuk menilai pengertian guna membuat tafsiran.
c)
Ada
kecenderungan siswa untuk menerka jawaban.[8]
4)
Tes
isian (completion test)
Completion test terdiri
atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Siswa diminta
untuk melengkapi bagian-bagian yang hilang tersebut.
·
Kelebihannya:
a)
Relatif
mudah disusun.
b)
Sangat
baik untuk menilai kemampuan siswa yang berkenaan dengan fakta-fakta,
prinsip-prinsip, dan terminologi.
c)
Menuntut
siswa untuk mengemukakan pendapatnya secara singkat dan jelas.
d)
Pemeriksaan
lembar jawaban dapat dilakukan dengan objektif.
·
Kekurangannya:
a)
Pada
umumnya hanya berkenaan dengan kemampuan mengingat saja, sedangan kemampuan
yang lain agak terabaikan.
b)
Jika
titik-titik kosong yang harus diisi terlalu banyak, para siswa sering terkecoh.
c)
Dalam
memeriksa lembar jawaban dibutuhkan waktu yang cukup banyak.[9]
Dalam
melaksanakan tes tertulis, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian,
yaitu sebagaimana dikemukakan berikut ini:
a)
Ruangan
tempat berlangsungnya tes berkondisi tenang sehingga siswa dapat lebih tenang
dalam mengerjakan soal.
b)
Ruangan
tes harus cukup longgar, tidak berdesak-desakan, tempat duduk diatur dengan
jarak tertentu yang memungkinkan tercegahnya kerjasama yang tidak sehat antara
testee.
c)
Ruangan
tes sebaiknya memiliki system pencahayaan dan pertukaran udara yang baik.
d)
Ruangan
tes memiliki fasilitas berupa alat tulis sebagai alas untuk mengerjakan soal.
e)
Agar
siswa lebih disiplin dalam mengerjakan tes maka harus ada tanda atau bel kapan
tes bisa dimulai dan diakhiri.
f)
Pengawas
tes hendaknya berlaku wajar, yakni tidak terlalu ketat dan juga terlalu santai.
g)
Harus
disiapkan daftar hadir yang harus ditanda tangani oleh siswa sebagai bukti
keikutsertaannya dalam tes tersebut.
h)
Sebelum
dilaksanakan tes, terlebih dahulu harus menentukan peraturan-peraturan yang
harus ditaati oleh siswa dan sanksi-sanksi yang akan dikenakan kepada siswa
yang melanggar.
i)
Jika
waktu yang telah ditentukan sudah habis, maka siswa (testee) harus menghentikan
pekerjaannya dan segera meninggalkan ruangan tes.
j)
Untuk
mencegah timbulnya berbagai kesulitan di kemudian hari, maka pada berita acara
harus dituliskan secara lengkap.[10]
Dalam dunia pendidikan, portofolio digunakan guru untuk melihat
perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu berdasarkan kumpulan hasil karya
sebagai bukti dari suatu kegiatan pembelajaran. Portofolio juga dapat digunakan
oleh peserta didik untuk mengumpulkan semua dokumen dari ilmu pengetahuan yang
telah dipelajari.
Prinsip-prinsip penilaian portofolio adalah mutual trust,
confidentiality, joint ownership, satisfaction, and relevance.
Tes tulis
memiliki dua bentuk, yaitu tes subjektif berupa tes esai atau uraian dan tes
objektif. Tes objektif ada bebeapa macam, di antaranya:
1)
Tes
benar salah (true false)
2)
Tes
pilihan ganda (multiple choice tes)
3)
Menjodohkan
(matching test)
4)
Tes
isian (completion test)
Agar ter tulis dapat diaksanakan dengan baik, maka harus
memperhatikan beberapa teknik pelaksanaan tes tulis.
Penyusun
mengharapkan agar para pembaca tidak merasa terpuaskan dengan isi makalah ini,
sehingga adanya keinginan lebih lanjut dari pembaca untuk membaca dan mendalami
literatur-literatur yang berkaitan dengan ruang lingkup makalah. Serta kritik
dan saran sangat kami harapkan dari pembaca sekalian.
Arifin,
Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Arikunto,
Suharsimi. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Khoiri,
Nur dan Abdul Rozaq Alkam. 2013. Teknik Evaluasi Hasil Belajar PAI. Mahameru:
Yogyakarta. Inisnu: Jepara.
Kusuma,
Mochtar. 2016. Evaluasi Pendidikan (Pengantar, Kompetensi, dan
Implementasi). Bantul Yogyakarta: Parama Ilmu.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar